and posted in Uncategorized

KT (17) dan DS (15) tidak bisa lagi berkutik di hadapan polisi. Kedua anggota geng motor Sanca Bergoyang ini terbukti membawa celurit. Tak hanya itu, KT juga mengakui dirinya sebagai pemasok senjata tajam.

KT mengaku dirinya kerap menjadikan gudang yang beralamat di Jalan Bakti ABRI, Sukamaju Baru, Tapos, Depok, Jawa Barat itu sebagai tempat pembuatan senjata tajam. Sekitar enam senjata tajam berhasil dibuatnya selama empat bulan.

“Sejak Februari kemarin (produksi senjata tajam),” ucap KT, di Depok, Selasa (6/6/2017).

KT mengaku senjata tajam tersebut dijual melalui Facebook, dengan harga berbeda-beda, tergantung jenis dan ukuran.

“Membuatnya tergantung pesanan dari grup Facebook. Satu senjata tajam biasa dijual dengan harga Rp 35 ribu sampai Rp 50 ribu,” ujar dia.

KT mengatakan, pembeli senjata tajam rata-rata anak muda. Namun, tidak mengetahui detail apakah pembeli dari geng motor atau bukan.

“Paling banyak anak muda. Saya enggak tahu mereka (geng motor atau bukan) yang pasti kalau yang beli, artinya dipakai buat ributlah, pak,” ujar dia.

KT mengklaim terpaksa membikin dan menjual berbagai jenis senjata tajam, lantaran terbelit kebutuhan ekonomi. Penghasilannya sebagai buruh harian dirasa tidak mencukupi kebutuhan keluarganya.

“Temen bilang, lo bisa buat senjata enggak? Saya jawab bisa tapi dibayar, ya. Karena waktu itu butuh duit buat susu anak,” ucap dia.

Sementara, Kasat Reskrim Polresta Depok Komisaris Teguh Nugroho mengatakan, KT memiliki grup Facebook bernama Sanca Bergoyang. Di dalam grup tersebut, pelaku menjual berbagai jenis senjata tajam.

Geng (motor) ini belum mencapai satu tahun. Domisilinya di Kecamatan Tapos, Depok. Geng ini sering menantang geng Jepang atau Jembatan Mampang,” Teguh menandaskan.

 

Leave your Comment